Get Adobe Flash player
Jumat, 29 April 2016
Dokumen dan Kegiatan
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini1
mod_vvisit_counterkemarin81
mod_vvisit_counterminggu ini478
mod_vvisit_counterbulan ini3067

Potensi Unggulan Daerah

1) Industri

Pembangunan sektor industri di Kabupaten Purworejo bertujuan untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan industri rumah tangga, meningkatkan peran industri kecil dan menengah dalam memperdayakan ekonomi kerakyatan, dan memperkuat penguasaan teknologi peralatan dalam upaya pencapaian akses pasar dan penguasaan modal.

Berdasarkan perhitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Purworejo Tahun 2009, kegiatan sektor industri mencapai 574,141 milyar rupiah atau 9,82% dari seluruh kegiatan di Kabupaten Purworejo. Kondisi tersebut menurun dibanding tahun 2008 yang mencapai 10,21%, hal ini terkait dengan kondisi sector industry yang secara nasional juga berpengaruh terhadap gejolak ekonomi global di tahun 2008. Di tahun 2009 industri local sampai dengan nasional sedang dalam proses recovery dimana laju pertumbuhan sector industry hanya mencapai 5,45% di tahun 2009, turun jauh dari tahun 2008 mampu mencapai 16,05%.

Namun demikian secara kuantitas nilai tambah bruto sector industry di tahun 2009 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun sebelumnya, yaitu dari 342,882 milyar rupiah di tahun 2005 meningkat menjadi 574,141 milyar rupiah di tahun 2009. Pendukung utama di sektor industri adalah dari industri makanan minuman dan tembakau yang mencapai 334,892 milyar rupiah di tahun 2009 atau sebesar 5,73% dari PDRB Kabupaten.

Tabel 2.6 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Purworejo Sektor Industri Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Rp. Juta)

Sumber: PDRB Kab. Purworejo berbagai tahun terbitan (diolah)

2) Perdagangan

Pembangunan sektor perdagangan bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah, penyediaan sarana dan prasarana pemasaran, pengembangan usaha dasar sebagai penyangga sumber pendapatan asli daerah, meningkatkan pengawasan terhadap peredaran barang dan jasa dalam rangka perlindungan konsumen.

Pada tahun 2008, sarana perdagangan di Kabupaten Purworejo berupa pasar tradisional dan pasar lokal. Pasar tradisional berjumlah 27 buah, sedangkan pasar lokal berjumlah 29 buah.

Tabel 2.6 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Purworejo Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Rp. Juta)


Sumber: PDRB Kab. Purworejo berbagai tahun terbitan (diolah)

Dari tabel di atas terlihat bahwa sektor perdagangan didominasi oleh perdagangan besar dan eceran yang mencapai Rp 795,8 Milyar di tahun 2009 atau 13,61% PDRB Kabupaten. Sedangkan hotel hanya mampu menyumbang 0,08% perekonomian kabupaten dalam PDRB.

3) Pariwisata

Jumlah Obyek Wisata di Kabupaten Purworejo dalam kurun waktu tahun 2003-2008 tidak mengalami perubahan. Objek wisata alam berjumlah 8 buah dan objek wisata buatan berjumlah 4 buah. Kabupaten Purworejo tahun 2001 memiliki hotel non berbintang sebanyak 14 buah mengalami penurunan menjadi 13 buah di tahun 2008.

Dalam kurun waktu 2006-2009 wisatawan yang datang di Kabupaten Purworejo hanya wisatawan domestik berturut-turut mencapai 146.040, 113.774, 200.817 dan 117.650 orang atau tiap tahun rata-rata mengalami kenaikan sebesar 14,29%. Jumlah situs bersejarah dikabupaten Purworejo dari tahun 2001-2005 berjumlah 15 buah dan tahun 2006 ditemukan situs sejarah baru menjadi 21 buah.

4) Pertanian

Kabupaten Purworejo adalah daerah agraris karena sebagian besar penggunaan lahannya adalah pertanian, begitu pula mata pencaharian penduduk sebagian besar sebagai petani. Dalam struktur perekonomian daerah, potensi daya dukung sector pertanian mencapai 32,81% di tahun 2009 yang didominasi oleh tanaman bahan makananan yang mencapai 22,20%. Namun demikian potensi tersebut masih belum tergarap dengan baik karena pada tahun 2008-2009 laju pertumbuhan sector pertanian masih dibawah 10%.

Tabel 2.6 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Purworejo Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2005-2009 (Rp. Juta)


Sumber: PDRB Kab. Purworejo berbagai tahun terbitan (diolah)

Luas lahan pertanian Kabupaten Purworejo sebagian besar adalah sawah berpengairan non teknis dan tadah hujan, hanya sebagian kecil yang berpengairan teknis.

Padi

Luas areal produksi padi dalam kurun waktu tahun 2005-2009 berturut-turut 49.654, 52.031, 52.431, 53.395 dan 53.770 ha, atau tiap tahun naik rata-rata 2,02%. Jumlah produksi padi dalam kurun waktu tersebut adalah 280.699, 280.463, 291.158, 302.079 dan 299.896 ton atau tiap tahun naikrata-rata 1,69%.

Proporsi kebutuhan beras dan ketersediaan beras di Kabupaten Purworejo sejak tahun 2001 adalah kebutuhan beras lebih kecil dibandingkan ketersediaannya. Hal ini berarti Kabupaten Purworejo surplus beras. Sehubungan dengan hal tersebut untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan bahan pangan dan ketersediaannya maka di tahun yang akan datang memerlukan langkah untuk intensifikasi pertanian.

Jagung

Luas areal produksi jagung dalam kurun waktu tahun 2005-2009 berturut-turut 3.444, 3.102, 3.789, 3.409 da 4.801 ha, atau naik rata-rata tiap tahun 10,76%. Jumlah produksi jagung dalam kurun waktu tersebut adalah 30.146, 23.264, 26.160, 23.487, dan 28.736 ton atau mengalami kenaikan rata-rata tiap tahun 0,44%.

Kedelai

Luas areal produksi kedelai dalam kurun waktu tahun 2005-2009 berturut-turut 2.238, 2.679, 2.062, 2.193, dan 2.483 ha, atau naik rata-rata tiap tahun 4,06%. Jumlah produksi kedelai dalam kurun waktu tersebut adalah 3.157, 3.564, 2.890, 3.182, dan 3.606 ton atau mengalami naik rata-rata tiap tahun 4,34%.

5) Kehutanan

Pelaksanaan pembangunan kehutanan dan perkebunan di Kabupaten Purworejo mempunyai peran dalam menjaga dan meningkatkan kelestarian lingkungan hidup, mendukung penyediaan lapangan kerja, penyediaan bahan baku industri dan penyediaan bahan ekspor non migas sehingga diharapkan dapat mewujudkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.

Hasil hutan negara

Luas hutan produksi mengalami perubahan dari 447,40 Ha di 2005 menjadi 8.864,94 Ha di tahun 2009. Di tahun 2006-2007 mengalami peningkatan mencapai 20 kali lipat dikarenakan salah satunya ada program penanaman sejuta pohon. Penanaman sejuta pohon di areal lahan kritis atau lahan tandus untuk meningkatkan produksi hasil hutan produksi di tahun yang akan datang agar lebih intensif lagi. Hasil hutan (kayu pinus) dalam kurun waktu 2005-2009 adalah 4.063; 3.840; 169,82; 1.064,11; dan 1.772 m3. Terjadi penurunan produksi yang signifikan karena terdapat peremajaan tanaman di tahun 2006-2007. Sedangkan untuk hsil produksi getah pinus pada periode tersebut berturut-turut adalah 1,9; 2.258; 1.772; 2.669; dan 3.084 ton. Lonjakan peningkatan produksi getah merupakan dampak dari adanya penanaman besar-besaran di tahun 2006-2007.

6) Perikanan laut

Jumlah produksi ikan laut dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami perubahan berturut-turut adalah 15.523, 16.091, 40.261, 34.538, dan 42.812 kg atau mengalami fluktuasi rata-rata tiap tahun 39,49%. Jumlah Nelayan Laut terus meningkat dalam kurun waktu tersebut yaitu dari 207 di tahun 2005 menjadi 272 di tahun 2009 dengan jumlah perahun mencapai 89 buah.

7) Perikanan darat

Luas tambak terus berkurang dalam kurun waktu 2005-2009 dari 151 Ha menjadi 136,25 Ha. Namun demikian produktivitas tambak mengalami peningkatan rata-rata mencapai 2,59% untuk perikanan air tawar/kolam dan 10,36% untuk tambak udang. Jumlah produksi ikan air tawar/kolam dalam kurun waktu tersebut berturut-turut yaitu 478.839, 484.714, 507.240, 516.930 dan 530.303 kg. Sedangkan jumlah produksi ikan tambak yaitu 187.487, 252.838, 255.877, 261.470 dan 269.846 kg. Peningkatan ini dikarenakan adanya teknologi perikanan yang telah diterapkan dengan baik.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Purworejo semakin giat membudidayakan ikan guna memenuhi permintaan pasar juga dalam rangka meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga. Selain produksi ikan konsumsi, produksi benih ikan juga memiliki andil yang sangat besar dalam rangka keberhasilan perikanan. Upaya yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produksi benih ikan yaitu dengan cara meningkatkan sarana dan prasarana pembenihan ikan utamanya pada Balai Benih Ikan (BBI) yang berlokasi di Kecamatan Purworejo. Oleh karena itu, di tahun yang akan datang pengembangan produksi ikan konsumsi dengan produksi benih ikan harusnya berimbang karena produksi benih ikan nilai jualnya lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan produksi ikan konsumsi.

8) Peternakan

Ternak Besar

Jumlah populasi sapi potong dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami kenaikan 18,46% berturut-turut dari 14.130, 13.067, 13.170,16.980 dan 16.738 ekor. Jumlah pemotongan sapi potong dalam kurun waktu tersebut naik 6,10% yaitu berturut-turut 2.083, 1.268, 2.207, 1.753 dan 2.210 ekor. Jumlah produksi daging sapi dalam kurun waktu tersebut naik 12,33% berturut-turut dari 447,949, 1.463.722, 336.373, 578.490 dan 503.160 kg.

Jumlah populasi sapi perah dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami penurunan sebesar 35,16% yaitu dari 91 ekor di tahun 2005 menjadi tinggal 59 ekor di tahun 2009. Menurunnya minat peternakan sapi perah antara lain dikarenakan karena adanya kesulitan dalam proses pengolahan susu pasca panen dan distribusi pemasaran di tingkat local maupun regional. Akibatnya produk susu dalam kurun waktu tahun tersebut juga mengalami penurunan sampai sebesar 70,94% yaitu berturut-turut 248.242, 55.010, 439, 439 dan 72.146 liter.

Ternak Kecil

Jumlah populasi kambing dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 112.776, 93.237, 99.421, 102.159 dan 102.264 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 1,96%. Jumlah populasi Kambing PE dalam kurun waktu tersebut adalah 59.649, 60.808, 54.872, 67.165 dan 67.837 ekor atau naik tiap tahun rata-rata 3,90%. Jumlah populasi domba dalam kurun waktu tersebut adalah 57.068, 43.974, 44.228, 45.603 dan 39.395 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 8,22%. Sedangkan jumlah populasi babi dalam kurun waktu tersebut adalah 503, 28, 137, 158 dan 226 ekor atau naik tiap tahun rata-rata 88,30% sebagai akibat dari peningkatan drastis pada tahun 2007.

Unggas

Jumlah ayam buras dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 1.146.775, 671.821, 606.727, 608.477, dan 644.470 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 11,23%. Produksi telur ayam buras berturut-turut adalah 13.761.294, 5.068.191, 1.137.075, 3.969.879, dan 2.542.133 butir atau turun tiap tahun rata-rata 18,21%. Produksi daging ayam buras adalah 409.973, 2.070.711, 1.131.786, 601.779,5 dan 1.264.002,3 kg.

Jumlah populasi ayam petelur dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 21.000, 24.900, 40.967, 24.963, dan 18.364 ekor atau naik tiap tahun rata-rata 4,40%, sedangkan produksi telur ayam petelur adalah 202.421, 102.829, 82.195, 109.893,3 dan 184.414,8 kg atau tiap tahun naik rata-rata 3,51%.

Jumlah populasi ayam pedaging dalam kurun waktu tahun 2005-2009 mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 141.100, 105.500, 140.659, 587.481 dan 205.351 ekor atau naik 45,54% dari tahun 2005. Produksi daging ayam pedaging adalah 810.496, 747.981, 2.585.214, 1.703.611,7 dan 4.258.289,9 kg atau tiap tahun naik rata-rata 88,44%.

Jumlah populasi itik dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 75.729, 98.710, 90.501, 75.567 dan 72.291 ekor atau turun tiap tahun rata-rata 0,31%. Jumlah produksi itik berupa telur dalam kurun waktu tahun 2005-2009 adalah 4.961.762, 8.587.786, 2.767.488, 1.762.170 dan 2.245.714 butir atau turun 19,08% dari tahun 2004 s.d 2007 dan naik sebesar 27% di tahun 2008.

9) Perkebunan

Perkebunan di Kabupaten Purworejo terdiri dari perkebunan cengkeh, kopi, jambu mete, aren, kapok randu, kapulogo, kemukus, tebu, temulawak, kencur, kunyit, jahe, tembakau, kakao, lada, nilam, mlinjo, vanili. Jumlah areal perkebunan, jumlah produksi dan jumlah konsumsi dalam kurun waktu tahun 2005-2009 di Kabupaten Purworejo secara umum ada yang mengalami kenaikan dan penurunan. Luas areal perkebunan, jumlah produksi dan jumlah konsumsi yang mengalami kenaikan hanya tembakau. Sedangkan luas areal perkebunan, jumlah produksi dan jumlah konsumsi yang mengalami penurunan adalah kopi, kakao, lada, vanili, dan tebu. Industri pengolahan hasil perkebunan di Kabupaten Purworejo terdiri dari hammermill kopi, mesin luwak, mesin bubuk kopi, alat pengolah gula kelapa, alat pengolah minyak kelapa, alat pengolah emping mlinjo, alat suling daun cengkeh, dan alat suling minyak nilam.